<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>RustyrevolveЯ</title>
	<atom:link href="http://rustyrevolver.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rustyrevolver.wordpress.com</link>
	<description>[ AЯOT &#124;&#124; TORA ]</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Jan 2012 16:48:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rustyrevolver.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>RustyrevolveЯ</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rustyrevolver.wordpress.com/osd.xml" title="RustyrevolveЯ" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rustyrevolver.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>A (very) Old Writing</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com/2012/01/22/a-very-old-writing/</link>
		<comments>http://rustyrevolver.wordpress.com/2012/01/22/a-very-old-writing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 16:48:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustyrevolver</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustyrevolver.wordpress.com/2012/01/22/a-very-old-writing/</guid>
		<description><![CDATA[(ini beneran gue yang nulis, 2006 kalo nggak salah)   Hari semakin gelap, dan aku menggigil kedinginan. Stasiun kereta ini sudah mulai sepi, beberapa wajah melihatku ketika aku melewati mereka. Mereka berbisik-bisik, tersenyum menjijikan, beberapa menggodaku dengan kata-kata yang mungkin tidak akan pernah kuucapkan. Aku memaki dalam hati, menyesali kebodohanku karena lupa waktu dan pulang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=181&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(ini beneran gue yang nulis, 2006 kalo nggak salah)</p>
<p> </p>
<p>Hari semakin gelap, dan aku menggigil kedinginan. Stasiun kereta ini sudah mulai sepi, beberapa wajah melihatku ketika aku melewati mereka. Mereka berbisik-bisik, tersenyum menjijikan, beberapa menggodaku dengan kata-kata yang mungkin tidak akan pernah kuucapkan. Aku memaki dalam hati, menyesali kebodohanku karena lupa waktu dan pulang terlalu malam.</p>
<p> Namaku Liana, kelas dua SMA, dan hari ini aku terpaksa pulang malam karena panitia pentas seni sekolahku mengadakan rapat dan aku terlalu lama ngobrol dengan anak-anak panitia yang sebagian besar baru aku kenal belakangan ini. Aku menghela napas dalam dan duduk di sebelah warung kecil yang menjual makanan kecil dan minuman ringan. Penjualnya tersenyum kecil kepadaku, aku memang biasa duduk di sini kalau aku pulang sekolah di <em>siang hari</em> dimana premannya tidak sebanyak malam-malam begini.</p>
<p> Sebenarnya aku tidak terlalu takut, karena di dalam tasku aku selalu membawa semprotan lada &#8212; itu lho, semprotan yang mengeluarkan lada untuk disemprot ke muka orang yang mengganggumu. Tapi yang membuatku tidak pede adalah karena badanku yang kecil. Umurku enam belas tahun, tapi tinggiku hanya seratus empat puluh tiga sentimeter. Jangan tanya berat badanku, kau akan menyangka aku anoreksia. Dengan badan seperti ini, aku bisa apa kalau ada orang yang setengah meter lebih tinggi dariku menyerangku?</p>
<p> Oke, mungkin aku salah bicara. Di sebelah kananku ada seorang laki-laki tinggi kurus dengan rambut lurus kaku berwarna hijau yang menutupi sebagian besar mukanya duduk tepat di sebelahku sambil membaca buku bersampul hitam dengan gambar pentagram merah. Tunggu, buku itu judulnya di belakang? Jangan-jangan itu kitab salah satu agama satanis yang sering kudengar? Malam ini akan betul-betul sempurna kalau itu memang yang aku duga.</p>
<p> Suara klakson kereta terdengar nyaring ketika ia memasuki stasiun. Aku cepat-cepat menaikinya, aku ingin secepatnya pulang ke rumah dan berendam air hangat berharap muka-muka mesum yang tadi menggodaku bisa hilang dari ingatanku. Namun belum sempat kereta berjalan, aku merasa ada hawa panas di belakangku. Benar saja, seorang lelaki setengah baya sedang tersenyum lebar sambil mengobrol dengan temannya dan pahanya ditempel-tempel ke pantatku. Sumpah, aku menahan godaan besar untuk menyemprot mukanya. Aku rasa itu bukan tindakan bijaksana, mengingat dia sedang bersama dua-tiga temannya. Aku sekarang hanya bisa berharap orang ini cepat-cepat turun.</p>
<p> Kereta bergerak maju dengan lumayan mengagetkan hingga beberapa orang tertarik ke belakang termasuk om-om mesum itu.</p>
<p> “Aduh! Hati-hati dong&#8230;” teriak om-om mesum itu mendadak. Semua gerakan yang terinspirasi film porno jepang itu juga berhenti.</p>
<p> “Maaf pak, bapak terlalu mepet ke sini. Bisa geser sedikit?” ujar seseorang dengan nada rendah yang datar.</p>
<p> “Tapi dik, saya&#8230;”</p>
<p> “Kalau bapak nggak geser, jangan protes kalau bapak kena sikut lagi.”</p>
<p> Om-om itu terdengar bergumam ragu, namun akhirnya dia bergeser. Jangan tanya bagaimana aku tahu, silahkan tanya pantatku kalau masih penasaran.</p>
<p> Maaf, masih emosi.</p>
<p> Didorong rasa penasaran, aku melihat asal suara rendah itu. Ternyata suara itu berasal dari cowok seram yang berambut hijau tadi. Dia sekarang berdiri tepat di sebelahku, dan aku lebih takut dengannya dibanding dengan om-om tadi. Serius, badannya benar-benar tinggi. Sekarang kalau aku menengok, yang terlihat hanya garis-garis kuning-biru dari kaos polonya. Untung badannya cenderung tidak bau untuk standar keringat mayoritas orang yang pulang naik kereta jam segini karena aku praktis berada tepat di bawah ketiaknya.</p>
<p> Perjalanan pulang naik kereta yang seharusnya hanya memakan waktu kurang dari satu jam ini terasa lebih lama dari satu minggu untukku. Cowok ini setiap semenit sekali kupergoki sedang mengintipku dari sela-sela rambut ajaibnya itu. Aku baru sadar kalau di kantung baju seragamku sebuah handphone terdiam dengan manis seolah meminta untuk diambil sambil sang maling mendapat sedikit bonus, meskipun ukuran dadaku agak pas-pasan.</p>
<p> Hei, dalam kondisi seperti ini aku boleh sedikit sinis ‘kan?</p>
<p> Semakin lama aku semakin curiga kalu cowok ini memang mengincar handphoneku. Maksudku ayolah, apa sih kemungkinan yang lain dari dia melirikku setiap semenit sekali? Emang sih tampangnya lumayan cakep, tapi sejak kapan sih yang ganteng itu orang baik-baik? Setan aja mukanya pada ganteng kok.</p>
<p> Aku kaget setengah mati waktu dia mencolek bahuku. Dengan takut-takut aku menoleh tepat ketika kereta brengsek ini memutuskan ini waktu yang tepat untuk mati lampu. Cahaya putih di depanku membuatku silau sejenak sebelum akhirnya aku sadar bahwa itu berasal dari handphonenya. Sederet teks tertulis di situ:</p>
<p> <em>bole knalan nda? ^^</em></p>
<p> Mungkin karena terlalu kaget, reaksi pertamaku adalah memalingkan muka sambil menahan tawa. Tidak lama kemudian aku merasakan colekan lagi, dan aku dengan sedikit rasa lega di dadaku menoleh.</p>
<p> <em>jangan takut dulu, biar tampang gw kyk gini gw bukan preman. gw anak band baik-baik kok ^^; srius d!</em></p>
<p> Wajah yang tersembunyi di balik rambut ajaib itu terlihat tersenyum gugup dan mendadak semua ketakutanku menghilang entah kemana. Meskipun aku sendiri masih memasukkan tanganku ke dalam tas dan menggengam semprotan ladaku erat-erat.</p>
<p> Aku tertawa kecil. “Siapa yang takut?” ujarku.</p>
<p> “Iya lah, elo berani pulang malem naik kereta begini. Pastinya elo bukan cewek penakut,” jawabnya dengan senyum yang kelihatan lebih rileks sementara dia menunduk bergantungan di pegangan kereta mencoba menyamakan kepalanya dengan tinggi badanku. Iya, maaf deh kalau aku pendek.</p>
<p> “Jadi,” lanjutnya, “boleh nggak?”</p>
<p> “Apaan?”</p>
<p> “Yang tadi, kenalan,” lanjutnya sambil nyengir lebar.</p>
<p> “Liana,” jawabku singkat. Dan aku langsung menyesalinya. Cewek waras mana yang ngasih nama mereka sama cowok serem yang ngajak kenalan di kereta?</p>
<p> Aku cukup yakin aku waras. Bodoh mungkin, tapi waras, dia bisa dapat apa sih dari nama? Yah, itu cukup pintar untuk standarku.</p>
<p> “Drean.”</p>
<p> Aku mengangkat alis sambil meliriknya. Ini nama macam apa lagi?</p>
<p> “Hey, anak band pasti punya nama panggilan yang aneh-aneh buat di atas panggung kan? <em>That’s how we gain popularity!</em>” lanjutnya dengan semangat yang mendadak berapi-api.</p>
<p> “Iya deh, gue sih iya-iya aja,” jawabku dengan senyum sedikit tidak enak.</p>
<p> “Jangan gitu lah, lain kali gue manggung, elo harus nonton ya! Jangan enggak. Omong-omong elo turun di mana?”</p>
<p> “Satu stasiun lagi,” jawabku enteng, dan tidak bohong lagi.</p>
<p> “Kok sama?”</p>
<p> “Mungkin karena elo ikut-ikutan?”</p>
<p> “Jangan jahat gitu lah, pasti elo nyangka habis ini gue bakal ngajak lo ke rumah gue terus gue kasih minuman yang ada obat biusnya, terus&#8230;”</p>
<p> “Iya deh, gue nggak curigaan lagi,” potongku sebal.</p>
<p> “Yah, ngomel gitu sih. Udah nyampe nih, omong-omong. Turun kan lo?”</p>
<p> Aku mengangguk kecil dan mau tidak mau ikut dengannya turun. Harus diakui, aku senang juga sih bisa turun dari kereta tanpa harus mendorong-dorong orang. Dengan adanya Drean di depanku, sebagian besar orang minggir dengan sendirinya.</p>
<p> “Nah, gue naik angkot dari sini. Elo baik-baik aja kan pulang sendiri?” tanyanya ketika kami akan berpisah di depan stasiun kereta.</p>
<p> “Tenang aja deh, nggak usah parno gitu.”</p>
<p> “Terang aja parno, cewek imut kayak elo pasti rawan banget digangguin. Kayak tadi di stasiun, atau tadi pas di kereta,” jawabnya dengan nada ringan.</p>
<p> “Udah deh, gue bisa baik-baik aja kok.”</p>
<p> “Ya udah, hati-hati ya,” lanjutnya sambil tersenyum.</p>
<p> “Iya,” jawabku sambil melihatnya berjalan menjauh.</p>
<p> Aku membalik, dan berjalan menuju arah rumahku. Tersenyum tipis karena paling tidak malam ini ada hal lucu yang bisa aku ceritakan ke Aya besok di sekolah. Aku sudah terlalu capek untuk meneleponnya malam ini.</p>
<p> “Liana!” kudengar suara memangilku dan aku spontan menengok. Di kejauhan aku melihat Drean tersenyum sangat lebar, raut wajahnya terlihat cerah dan tangannya menyapu rambutnya sehingga menunjukkan seluruh wajahnya. “Makasih udah ngasih tahu gue nama asli lo, semoga kita bisa ketemu lagi,” lanjutnya setengah berteriak tanpa sedikitpun rasa malu.</p>
<p> Aku melambai gugup, dan membalik setengah berlari pulang. Aku rasa wajahku memerah.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>“Dan itulah akhir dari malam teraneh hidup gue,” ujarku kepada Aya esok harinya di kelas.</p>
<p> “Dan cowok itu bilang namanya siapa?”</p>
<p> “Drean.”</p>
<p> Aya terdiam dan terlihat menahan senyum. Aku menatapnya curiga, biasanya senyum itu keluar ketika ada hal yang dia sembunyikan.</p>
<p> “Apaan, Ay?”</p>
<p> “Apanya apaan?”</p>
<p> “Elo senyum-senyum mencurigakan begitu pasti ada yang elo umpetin. Jangan boong lo, gue udah kenal lo dari lama. Ada apaan, ceritain!” ujarku sambil mencolek pinggangnya.</p>
<p> “Geli tahu, jangan di sini ah!”</p>
<p> “Mau di mana? Mau di mana?”</p>
<p> “Entar aja, di rumah gue,” ujar Aya sambil masih menghindar dari colekanku.</p>
<p> “Rumah lo? Mau dong!” aku mendadak menjadi semangat, lebih karena selama beberapa kali berteman dengan Aya aku sama sekali belum pernah main ke rumahnya. Paling mentok aku mengantar-jemput dia di depan rumahnya. Dia memang tinggal dengan sepupunya karena orangtuanya bekerja di konservasi alam jauh di pedalaman hutan Kalimantan.</p>
<p> “Oke, kalo gitu&#8230;” sebelum Aya sempat menyelesaikan kalimatnya sebatang kapur melayang dan mengenainya telak di dahinya.</p>
<p> “Kalian kalau mau mesra-mesraan jangan di kelas pas jam pelajaran, oke?” ujar sang pelempar yang tidak lain adalah Pak Broto. Guru fisika yang juga kebetulan wali kelas dan juga kebetulan salah satu aktivis BP.</p>
<p> Jangan heran kalau aku dan Aya menjadi sangat pendiam selama sisa jam pelajaran.</p>
<p> &#8212;</p>
<p> Aku dan Aya berjalan menyusuri komplek perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan tempat rumah sepupu diamana ia menumpang. Pepohonan yang masih rimbun tumbuh rapi di pinggiran jalanan sepi menuju rumah besar yang terletak di ujung jalan. Aya membuka pagar rumah itu dan mengajakku masuk.</p>
<p> “Ay, tante dan om lo mana?” tanyaku begitu melihat rumah besar yang sepi itu.</p>
<p> “Mereka emang pergi-pergian kok, gue tinggal di sini sekarang cuma berdua sama sepupu gue. Yah, emang ada pembantu harian datang dan pergi sih, tapi itu nggak gue hitung sebagai penghuni tetap,” lanjutnya sambil tertawa kecil.</p>
<p> “Nah, sepupu lo sendiri ada di mana?”</p>
<p> “Paling lagi di atas, nongkrong sama temen-temennya,” jawab Aya sembari mengambil sebotol air dingin dan dua gelas. Aya lalu mengedikkan kepala mengajakku mengikutinya.</p>
<p> Aku mengikuti Aya memasuki kamarnya. Kamarnya terhitung rapi untuk orang yang suka ribut seperti dia. Mungkin aku perlu menceritakan lebih tentang Aya. Aku mengenalnya semenjak SMP karena dia menolongku dari kakak kelas yang melabrakku karena aku memakai kaos kaki panjang. Mereka tidak pernah menggangguku sejak itu. Lebih karena takut Aya akan melakukan hal yang mengerikan, mengingat dia memiliki badan yang tinggi atletis. Hal ini juga yang membuatnya belum pernah memiliki cowok sampai saat ini. Aku sering mengganggunya dengan mengatakan bahwa kalau sampai kita lulus SMA dia belum mendapat pacar, aku akan menghabiskan sisa hidupku menjadi istrinya.</p>
<p> Aku sendiri sebenarnya cukup heran, karena Aya sendiri tidak bisa dibilang kurang muka, bahkan aku bisa mengatakan kalau dia cantik. Kulitnya putih, matanya ramah (cenderung sadis kalau lagi marah sih), bibirnya yang penuh berwarna pink bahkan tanpa lipstik, aku bisa menghabiskan seharian mengatakan betapa cantiknya dia sebenarnya, dan dia sebenarnya bisa menjadi idola sekolah andaikan saja dia mau merubah penampilannya sedikit. Karena aku sendiri sangat iri dengan kelebihan fisiknya yang cenderung dia sembunyikan di balik rambut ekor kudanya yang acak-acakan dan seragam sekolahnya yang lima nomer kebesaran.</p>
<p> “Ay, gue mau ke kamar mandi nih,” ujarku sambil menggesek-gesekkan daguku ke atas kepalanya.</p>
<p> “Ke luar aja, belok kanan. Kamar mandinya ada di ujung,” balas Aya sambil menyundul daguku.</p>
<p> Aku mengambil bantal dan memukulnya di kepala dan kabur tepat ketika dia melempar guling ke pintu. Aku berjalan menyusuri lorong rumah itu, sayup-sayup aku mendengar suara musik yang disetel dengan volume keras dari dalam kamar sepupu Aya. Aku membuka pintu kamar mandi dan aku tersentak melihat pemandangan yang ada di depanku.</p>
<p> Seorang cowok berjongkok di depan WC membelakangi pintu. Dia telanjang dada, kepalanya dibalut plastik transparan dan isinya seperti dipenuhi cairan merah yang mengalir turun di lehernya. Dia berbalik, dan aku berteriak kencang, terbelah rasa kaget dan takut.</p>
<p> “Eh, eh, jangan teriak gitu dong&#8230; aduh gimana nih, gue nggak bakal ngapa-ngapain kok tenang dulu, nanti gue jelasin. Aduh, <em>man</em>, gimana nih&#8230;.” Makhluk tidak jelas itu menceracau di depanku Pintu kamar sepupu Aya menjeblak terbuka, dan aku mendengar teriakan yang tidak kalah kerasnya dari orang yang keluar, dan aku menengok seketika.</p>
<p> Aku melihat sosok tinggi kurus dengan rambut berantakan yang berwarna hijau yang berekspresi seolah baru menerima setruman ribuan volt. Drean, cowok ajaib dari hari kemarin.</p>
<p> Dan aku pun berteriak lagi.</p>
<p> Dan dia pun berteriak juga.</p>
<p> Dan makhluk ajaib di kamar mandi itu berteriak juga.</p>
<p> Dan Aya keluar dari kamarnya sambil meniup terompet tahun baru yang baru lewat beberapa minggu yang lalu.</p>
<p> Drean menengok, menatap Aya dengan tatapan kesal, aku tidak mengerti kenapa. Sementara Aya sendiri nyengir lebar sambil meniup-niup terompetnya dan masuk ke kamarnya secara perlahan tapi pasti. Pintu kemudian menutup dan terdengar suara mengunci yang membuat Drean tersadar dan menggedor-gedor pintu itu sambil memanggil-manggil Aya.</p>
<p> “Anu&#8230; gue bisa jelasin semuanya kok,” mendadak cowok berkepala dilapisi plastik itu berujar di sampingku. Aku menengok dan menatapnya dengan tatapan heran, mencoba menebak apa penjelasan yang akan dia beri kepadaku, sementara di belakang kami ada Drean yang masih menggedor-gedor pintu kamar Aya sementara pemilik kamar itu sendiri sedang memainkan mars pemilu dengan terompet tahun barunya.</p>
<p> “Oke,” jawabku setelah mengatur nafas. “Gue bakalan tertarik ngedenger penjelasan soal plastik di kepala dan cairan merah menjijikan itu.”</p>
<p> “Gue lagi&#8230; ngecat rambut.”</p>
<p> Dan aku merasa menjadi orang paling idiot di muka bumi. Ngecat rambut? Dengan adanya Drean di sini, segalanya menjadi sangat jelas. Ini pasti salah satu makhluk dari bandnya.</p>
<p> “Elo&#8230; udah nggak takut ama gue lagi kan?” tanyanya lagi dengan suara pelan, seolah takut aku berteriak lagi.</p>
<p> “Ngapain lagi kepala lo dilapis plastik gitu? Gue udah bisa ngerti masalah cat rambut, tapi yang satu itu gue masih belom nangkep maksudnya.”</p>
<p> “Itu buat pengganti heater. Di rumah ini kan nggak ada satupun alat pemanas, jadi gue pake suhu tubuh gue sendiri buat ngegantiin itu alat.”</p>
<p> Oke, mereka memang makhluk aneh. Harus aku akui kalau ide mereka memang pintar, meskipun aku rasa ini hanya akibat dari terlalu banyak bergaul di salon.</p>
<p> “Ini ide lo atau dia?” tanyaku lagi sambil menunjuk Drean yang makin heboh menggedor-gedor pintu sementara Aya menyanyikan ‘Row-row-row your boat’ dengan nada fals dari terompet yang memang seharusnya tidak punya nada itu.</p>
<p> “Kita diajarin Frans,” jawabnya.</p>
<p> “Banci salon?”</p>
<p> “Bukan, tukang nasi goreng di seberang jalan,” jawabnya enteng.</p>
<p> Aku mengangkat alis ku sebelah, menatapnya dengan tatapan bertanya sekaligus tidak percaya.</p>
<p> “Gue nggak bercanda. Liat di seberang jalan deh, ada warung nasi goreng Le Frans. Yang punya emang mantan kapster yang dipecat gara-gara pacaran sama anak yang punya salon,” lanjutnya meyakinkanku.</p>
<p> “Kok bisa dipecat?”</p>
<p> “Anaknya cowok.”</p>
<p> “Oh&#8230;”</p>
<p> Obrolanku dengan cowok berambut merah ini terputus ketika Drean memutuskan bahwa mendobrak pintu kamar Aya adalah ide yang sangat bagus. Sayangnya, Aya dengan sengaja membuka pintunya ketika Drean menyerbu masuk dan mengulurkan kakinya dari balik pintu. Suara keras terdengar selama beberapa detik kemudian, campuran antara suara barang jatuh, teriakan cowok dan tawa cewek. Aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi di dalam sana.</p>
<p> Ketika keadaan mulai menenang, aku dan cowok berambut merah itu mengintip ke dalam kamar Aya dan mendapati pemandangan paling aneh dalam hidup kami (meskipun tidak seaneh sewaktu tadi aku membuka pintu WC sih). Tempat tidur Aya, yang memang hanya sekedar kasur yang digelar di lantai, kini berada di atas badan Drean yang meronta-ronta sementara Aya menindihnya.</p>
<p> “Li, masuk bentar deh,” ujar Aya sambil menahan Drean yang kelihatannya semakin menggila meronta mencoba keluar dari bawah kasur itu.</p>
<p> Aku berjalan memasuki kamar yang mendadak berantakan itu, kemudian Aya berdiri dan menarik kasurnya sehingga Drean bisa keluar dan menarik napas di udara bebas.</p>
<p> “Liana, kenalin ini Andreas. Dia sepupu gue sekaligus tuan rumah ini,” ujar Aya sambil nyengir lebar dan menjulurkan tangannya menunjuk Drean yang masih megap-megap kehabisan nafas. “Dan Andre, kenalin ini Liana, temen sekelas gue yang udah sebulan belakangan elo ngotot minta kenalin,” lanjutnya lagi.</p>
<p> “Tunggu dulu, jadi nama asli dia Andreas? Dan apa lagi dia ternyata sepupu lo? Kok bisa-bisanya dia pulang searah sama gue? Ngajak kenalan, lagi!” cerocosku tanpa henti. Aku menuntut jawaban lengkap, diketik rapi dengan spasi 1.5, font Times New Roman ukuran 12, minimal tiga halaman A4 besok pagi di mejaku.</p>
<p> Kok rasanya ada yang aneh ya?</p>
<p> “Kalau masalah itu, elo bisa tanya sama dia,” jawab Aya ringan sambil menepuk punggung Drean dengan keras sampai ia terbatuk keras lagi.</p>
<p> Drean terduduk lemas seolah dia sedang disidang sementara semua orang memperhatikannya: aku yang penasaran, Aya yang tidak henti-hentinya cekikikan, dan cowok kepala plastik merah yang telanjang dada dan mengintip dari luar pintu. Drean mengangkat kepala dan menatap ke luar pintu.</p>
<p> “Nyong, balik kamar mandi lo!” ujarnya ke makhluk di luar pintu itu.</p>
<p> “Tapi ini kan udah setengah jam, harusnya rambut gue sekarang dibilas dan dikeramasin&#8230;” jawabnya enteng.</p>
<p> “Ya udah, cepetan urusin tuh rambut!”</p>
<p> “Keramasin!”</p>
<p> “Ogah!”</p>
<p> “Elo kan udah janji, lagian gue takut shampoonya masuk mata,” rengeknya seperti anak lima tahun yang minta dibelikan mainan.</p>
<p> “Ya udah, gue yang keramasin elo deh,” potong Aya mendadak. “Elo berdua, selesaiin urusan yang bisa lo selesaiin sekarang, oke?” ujarnya kepada aku dan Drean, atau Andreas, atau apapun aku harus memanggilnya, aku bingung.</p>
<p> “Makasih ya Aya&#8230; budi baik lo bakal gue ingat sepanjang masa deh!” ujar cowok itu dengan nada yang mendadak terdengar teramat senang.</p>
<p> “Iya, iya,” jawab Aya sambil menariknya menuju kamar mandi.</p>
<p> “Mau sekalian bubble bath nggak?”</p>
<p> PLAKK!!!</p>
<p> Aku menatap Drean, yang juga kelihatannya mencoba cuek terhadap suara menyakitkan dari telapak tangan yang beradu dengan punggung telanjang itu.</p>
<p> “Jadi,” ujarku sambil menatap Drean, “boleh gue minta penjelasan?”</p>
<p> “Mau dari mana?” jawabnya pelan.</p>
<p> “Siapa elo, selengkapnya. Dan bagaimana elo bisa kenal sama gue, ketemu gue di kereta, pulang searah, dan hal-hal lainnya.”</p>
<p> “Nama gue Andreas, tapi dipanggil Drean sama anak-anak band gue. Gue sepupu Aya, dan gue bisa tahu elo dari situ,” ujarnya sambil menunjuk ke foto aku dan Aya yang ada di atas meja belajar Aya. “Waktu gue minta kenalin sama Aya, dia nggak ngasih, berhubung dia emang suka ngerjain gue. Dia akhirnya bilang kalo gue mau kenalan sama elo, gue harus usaha sendiri. Jadilah gue nungguin lo seharian di stasiun kereta.”</p>
<p> “Tunggu, jadi elo nungguin gue dari siang?”</p>
<p> “Eh&#8230; iya,” jawabnya.</p>
<p> “Tapi gue kan waktu itu pulang sekitar jam sembilan.”</p>
<p> “Eh&#8230; iya.”</p>
<p> “Berarti elo nungguin gue seharian?”</p>
<p> “Eh&#8230; iya,”</p>
<p> Aku terdiam, menatap mata yang masih tersebunyi di balik lebatnya rambut hijau itu. Aku tidak bisa dengan tepat menyatakan apa yang tersirat di sana, tapi aku cukup yakin kalau dia sangat menghindari tatapan langsung dariku.</p>
<p> “Lihat gue,” ujarku.</p>
<p> “Hah?”</p>
<p> “Lihat mata gue,” ujarku lagi, kini dengan lebih tegas.</p>
<p> Drean menatap takut-takut ke arahku, dan dengan spontan aku memegang mukanya dan menarik rambutnya ke atas. Matanya yang polos menatap lurus ke mataku, meskipun terlihat kalau dia gugup, atau takut.</p>
<p> “Dari tadi kek begini,” ujarku sambil melepaskan rambut dan mukanya. Dia terlihat kaget dan buru-buru mengembalikan posisi rambutnya kembali seperti awal. Aku mendadak merasakan wajahku panas, dan tersadar betapa nekatnya aku barusan.</p>
<p> “Jadi?” tanya Drean.</p>
<p> “Jadi apaan?” tanyaku kembali.</p>
<p> “Ada yang mau elo tanyain lagi?”</p>
<p> “Gue rasa, fase kenalannya udah lewat deh. Ujarku sambil mencoba tersenyum, meskipun dalam hati aku ingin berteriak-teriak panik.</p>
<p> Drean tertawa kecil, dan tersenyum. “Gue rasa elo bener deh. Jadi sekarang kita bisa ngobrol dengan enak dan maki-maki Aya yang udah ngatur insiden hari ini, kan?”</p>
<p> “Emangnya dia ya, biang masalah hari ini?” tanyaku.</p>
<p> “Masa iya dia tadi kabur dan main-main terompet kalau dia emang nggak salah apa-apa?”</p>
<p> Dan kami pun tertawa berdua di kamar yang berantakan itu. Seluruh ketegangan yang tadi ada seolah hilang entah ke mana.</p>
<p> &#8212;</p>
<p> “Jadi kapan ada latihan band main ke rumah lagi ya? Studionya ada di lantai tiga kok, jadi kita biasa latihan seharian seenak hati,” ujar Drean ketika aku turun dari motornya di depan stasiun kereta sore harinya.</p>
<p> “Iya, elo kontak-kontak gue aja, pasti gue dateng nonton kok,” jawabku mencoba sesantai mungkin padahal di dalam hati aku berharap dia cepat-cepat mengundangku. Oke, mungkin aku kedengaran munafik setelah semua tuduhan dan kecurigaanku kemarin ketika dia mengajak kenalan di kereta, tapi ayolah. Maksudku, dia ternyata MEMANG enak dilihat, dan MEMANG baik hati. Dan berapa sering sih, kamu bertemu orang ajaib seperti ini? Aku sangat menikmati kekonyolan dan keluguannya, yang tersembunyi di balik figur seram itu.</p>
<p> “Elo yakin nggak mau gue anter sampe rumah?” tanyanya lagi, mungkin untuk ke lima kalinya semenjak aku pulang.</p>
<p> “Nggak usah, masih sore kok. Lagian gue juga nggak enak nyusahin elo.”</p>
<p> “Ya udah, nanti gue SMS atau telepon deh,” ujarnya sambil melompat naik ke atas motornya.</p>
<p> Aku melambai ketika perlahan sosoknya menjauh meninggalkanku di tempat pertama kali kami bertemu ini. Aku tersenyum kecil, setengah berterima kasih kepada Aya yang membuatku mengalami salah satu pengalaman terajaib yang mungkin seorang cewek SMA bisa alami.</p>
<p> Omong-omong, dia tahu nomer Hpku dari mana ya? Aku juga nggak punya nomer Hpnya soalnya.</p>
<p> Dan Hpku berdering seolah membaca pikiranku. Sebuah SMS masuk, dari Aya. Aku sedikit bingung, karena seingatku tidak ada barangku yang ketinggalan di rumahnya atau apa, namun isi SMS itu ternyata benar-benar berada di luar dugaanku.</p>
<p> <em>Li, makasi y udah kelupaan ngasi nomer hape lo k Drean. gw skrg punya kesempatan ngerjain dia lagi &gt;D~</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustyrevolver.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustyrevolver.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustyrevolver.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustyrevolver.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustyrevolver.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustyrevolver.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustyrevolver.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustyrevolver.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustyrevolver.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustyrevolver.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustyrevolver.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustyrevolver.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustyrevolver.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustyrevolver.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=181&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustyrevolver.wordpress.com/2012/01/22/a-very-old-writing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1dc46d40598ce116d7389129b700052?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">AЯOT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Tertinggal</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/12/28/yang-tertinggal/</link>
		<comments>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/12/28/yang-tertinggal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 15:34:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustyrevolver</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://rustyrevolver.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Dibaca baru saja di launching @kreanesia &#8220;Aku akan menunggu, tanpa menganggu hubunganmu,&#8221; tertulis sederet kata dengan titik kuning di sisi kirinya yang masih terus kubaca di layar telepon yang perlahan mulai meredup. Aku tersenyum, namun sudut bibirku bergetar getir ingin melepas kata yang tersangkut di balik dada. Namun aku tahu itu percuma. Jika aku bicara, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=174&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dibaca baru saja di launching @kreanesia</p>
<p><em>&#8220;Aku akan menunggu, tanpa menganggu hubunganmu,&#8221;</em> tertulis sederet kata dengan titik kuning di sisi kirinya yang masih terus kubaca di layar telepon yang perlahan mulai meredup. Aku tersenyum, namun sudut bibirku bergetar getir ingin melepas kata yang tersangkut di balik dada.</p>
<p>Namun aku tahu itu percuma.</p>
<p>Jika aku bicara, tak kan pula ada kata yang mampu merasuk masuk menusuk hatimu yang kau buat beku untuk melindunginya dari sakit tak terperi yang mungkin akan kuberi, secara sengaja atau tak sengaja.</p>
<p>Ataukah begitu adanya? Aku hanya bisa mengira.</p>
<p>Aku menarik nafas, mencoba lepas dari batu besar yang mengganjal jalur otak dan hati. Bagai tumor ganas, buas, menghabisi jiwa yang terlahap isi kepala.</p>
<p><em>&#8220;Hadapilah, kamu salah, kamu kalah. Lepaslah lepas, biarkan dia bebas terbang ke mana dia seharusnya bersarang. Mungkin denganmu, tapi bukan sekarang,&#8221;</em> ujar kepala yang terbias logika.</p>
<p><em>&#8220;Sakit,&#8221;</em> ujar hati yang terkunci ego ingin memiliki.</p>
<p><em>&#8220;Tidak ada terakhir kali?&#8221;</em> ujar hati kembali.</p>
<p><em>&#8220;Tidak, biarkan dia pergi.&#8221;</em></p>
<p>Hening. Hanya terdengar nadasela sebuah lagu lama yang menohok dada, terputus bersambut sebuah suara yang mungkin kudengar untuk terakhir kalinya.</p>
<p><em>&#8220;Ya?&#8221;</em> ujarnya.</p>
<p><em>&#8220;Selamat tinggal, Yang Tertinggal,&#8221;</em> jawabku tulus.</p>
<p>Sambungan kuputus.</p>
<p>Dan hidup berjalan terus.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustyrevolver.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustyrevolver.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustyrevolver.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustyrevolver.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustyrevolver.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustyrevolver.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustyrevolver.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustyrevolver.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustyrevolver.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustyrevolver.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustyrevolver.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustyrevolver.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustyrevolver.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustyrevolver.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=174&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/12/28/yang-tertinggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1dc46d40598ce116d7389129b700052?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">AЯOT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Love Letter for No One</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/12/21/love-letter-for-no-one/</link>
		<comments>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/12/21/love-letter-for-no-one/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 19:19:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustyrevolver</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Shits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://rustyrevolver.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Dan kita akan merayakan ulang tahun kebersamaan kita untuk yang kesekian kalinya&#8230; seharusnya. Entahlah, suaramu sudah menjauh seiring detik yang dengan iring bersambut menabuh langkah sang kala, meninggalkan kisah kita yang perlahan, tapi pasti, terlupa. Bukan, bukan aku. Karena wujudmu yang maya dalam kepala itu senantiasa nyata adanya. Karena mungkin aku lelaki bodoh delusional yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=169&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan kita akan merayakan ulang tahun kebersamaan kita untuk yang kesekian kalinya&#8230; seharusnya. </p>
<p>Entahlah, suaramu sudah menjauh seiring detik yang dengan iring bersambut menabuh langkah sang kala, meninggalkan kisah kita yang perlahan, tapi pasti, terlupa.</p>
<p>Bukan, bukan aku. Karena wujudmu yang maya dalam kepala itu senantiasa nyata adanya. Karena mungkin aku lelaki bodoh delusional yang seperempat gila karena cinta, dan tigaperempat sudah begitu dari aslinya.</p>
<p>Dan ya, ini tentang kamu. Bukan dia, dia, atau mereka. Ini kamu, sang ratu yang membeku dalam kenangan bisu.</p>
<p>Namun dengarlah cinta, aku rindu. Rindu akan &#8220;kita&#8221; di kala lalu atau yang sempat ada di masa kita tak lagi bersama.</p>
<p>Sisa romansa semata, mereka berkata. Tapi biarlah, toh dengan begini tak ada yang terluka.</p>
<p>Terkecuali aku, tentu saja.</p>
<p>Dan jangan merasa bersalah tentang itu, manis. Aku adalah seorang masokis yang menikmati setiap senti hati yang teriris oleh cambuk kenangan yang tak kunjung habis.</p>
<p>Kuputar kembali lagu-lagu lama. Arkarna, mengenai waktu yang kita habiskan bersama. Ingatkah ketika kau menangis mendengarnya? Dan ingatkah ketika aku menyanyikannya seperti remaja dengan berjuta mimpi berbinar dari kedua bola mata?</p>
<p>Rindu, cinta. Rindu yang pernah ada dan tetap terangkai sama serupa. Rindu akan satu nama yang tertera selamanya di atas alur desir yang berdetak memanggil.</p>
<p>Dan dengarlah, meski kala telah menghantar pergi sebuah masa, rasa yang sama masih tetap ada meski kadang terlupa.</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p>(Ditulis di suatu masa yang lewatnya sudah lama. Diunggah dalam rangka tidak ada apa-apa)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustyrevolver.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustyrevolver.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustyrevolver.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustyrevolver.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustyrevolver.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustyrevolver.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustyrevolver.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustyrevolver.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustyrevolver.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustyrevolver.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustyrevolver.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustyrevolver.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustyrevolver.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustyrevolver.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=169&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/12/21/love-letter-for-no-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1dc46d40598ce116d7389129b700052?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">AЯOT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Life&#8217;s Bullshit</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/23/165/</link>
		<comments>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/23/165/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 15:57:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustyrevolver</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peluru dan Nada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/23/165/</guid>
		<description><![CDATA[Pohon-pohon seperti bersekongkol dengan cuaca. Beberapa hari Jakarta diguyur hujan dan angin, pepohonan di bagian selatan kota ini terlihat makin hijau, subur, dan menghalangi pandangan ke banyak marka jalan membuat para pendatang terutama supir-supir bajaj dan ojek pasca lebaran tersesat di anatara belitan jalur tikus dan tarif yang dimurah-murahkan oleh penumpang licik. &#160; “Lumayan lho, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=165&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pohon-pohon seperti bersekongkol dengan cuaca. Beberapa hari Jakarta diguyur hujan dan angin, pepohonan di bagian selatan kota ini terlihat makin hijau, subur, dan menghalangi pandangan ke banyak marka jalan membuat para pendatang terutama supir-supir bajaj dan ojek pasca lebaran tersesat di anatara belitan jalur tikus dan tarif yang dimurah-murahkan oleh penumpang licik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Lumayan lho, dari Fatmawati sampai gereja cuma ceban. Hemat sampai limapuluh persen tuh Lex!” ujar Vincent sambil menggulung lengan kemejanya, mengekspos sederetan tato berbeda yang dipaksa <em>matching</em> oleh berbagai seniman dengan jarum yang pernah singgah di sana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Elo mau ibadah aja masih culas, gimana mau gendut itu badan?” balas Alexa sambil menyeruput soda dari dalam gelas plastik. Kedua orang tersebut sedang duduk di bawah payung besar yang menjadi satu dengan meja yang bergambar produk minuman ringan, di atas meja itu tergeletak berbagai gelas plastik dan bungkus makanan ringan yang terbuka tanpa dibuang oleh mereka yang duduk di tempat itu sebelumnya. Air sisa hujan masih menetes dari pucuk dedaunan rindang di atas <em>convenient store </em>tempat mereka duduk-duduk itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Beb, gue nggak perlu gendut,” ujar Vincent sambil terkekeh. “Gue perlunya jadi tajir melintir supaya bisa beli otot, istri cantik, sama Chevy Impala ‘63.”</p>
<p>“Najis.”</p>
<p>“Lho, impian lelaki, tahu!”</p>
<p>“Ngebeli istri?”</p>
<p>“Hari gini lo nggak bakal dilirik kalo nggak kelihatan keren. Gue banyak duit, gue investasi di penampilan. Penampilan menarik, ada cewek nyangkut. Ada cewek nyangkut, ntar nikah deh. Kalau modal awalnya aja namanya investasi, ya berarti secara nggak langsung gue ngebeli istri gue di masa depan dong!” ujar Vincent merepet sambil terkekeh dan menyalakan rokok.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Lo tahu kan lo lagi ngobrol sama cewek sekarang?” tanya Alexa ketus.</p>
<p>“Meskipun rambut lo cepak dan kayaknya masih pake miniset, gue sadar kok elo masih cewek.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tai lo.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Makasih.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Jadi menurut lo cewek itu kayak barang, gitu?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Gue belum nemu satupun cewek yang memperlakukan gue kayak manusia. Mereka mau titit gue di kasur, pamerin gue ke temen-temennya kalo lagi jalan, keren-kerenan di klub, dan lain-lain. Buat dapetin itu semua mereka investasi ke penampilan mereka, jadi tit for tat aja, gue beli yang mereka jual dan mereka beli apa yang gue jual.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Itu kan cewek, bukan istri.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Istri gue pasti cewek kan? <em>Statistically speaking, nine out of ten women I met are bitches. I have no reason to believe I’m gonna marry someone that want me for nothing</em>.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>There’s still the last one out of ten</em>.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Then I have to marry you</em>. Sedangkan gue nggak yakin lo suka laki.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tai lo.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Makasih.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alexa mendengus kesal dan menyambar bungkus rokok berwarna merah dari meja di hadapan Vincent. Asap putih tipis merambat tipis dari sela-sela bibirnya yang melengkung turun. Matanya yang sipit memicing memandang lelaki di hadapannya itu. Rambut bergelombang acak-acakan dengan warna kecoklatan, jenggot beberapa helai yang lupa dicukur, mata tajam yang tersembunyi di balik lingkaran hitam yang mengelilinginya menghiasi raut wajah dengan rahang keras dan tulang pipi tinggi tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>This just crossed my mind.</em> Ngapain lo ke gereja?” tanya Alexa setelah emosinya sedikit lebih mereda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>To pray, is there any other reason</em>? Ini minggu pagi, dan tadi ada mi&#8230;.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“KTP lo itu Katolik, dan gereja tempat lo ‘misa’ tadi itu&#8230;” potong Alexa sambil menunjuk ke sebuah bangunan yang tidak seberapa jauh dari tempat mereka duduk-duduk ”&#8230;gereja HKBP. Jangan sok mau ngebegoin gue deh.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Oh, pantesan&#8230;”</p>
<p>“Jangan belagak bego.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Oke, oke. Gue tadi nyariin si Evan. Dia udah beberapa hari nggak bisa gue kontak, padahal gue janjain ngetake guide gitar di kosan dia,”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Ketemu?” tanya Alexa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Lah ini kita berdua doang, kira-kira ketemu nggak?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alexa terdiam. Dia menatap ke kejauhan, ke antara kerumunan orang-orang yang berjalan keluar dari bangunan tersebut. Beberapa berjalan dengan keluarganya, beberapa dengan pasangannya, beberapa sendiri. Wajah-wajah itu diperhatikan satu-persatu oleh Alexa, mencari raut lelaki gondrong dengan rahang keras dan kacamata kotak berbingkai tebal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nihil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Dan elo ikut kebaktian mereka dari pagi?” tanya Alexa lagi, memecahkan keheningan.</p>
<p>“Iya, gue ikut misa pagi terus nunggu sambil muter-muter nyari sampai bete, baru siangan nelpon elo nyuruh ke sini.”</p>
<p>“Kebaktian,” potong Alexa.</p>
<p>“Maksud lo apaan sih motong mulu? Gue tadi ikut misa kok,” Vincent mendengus kesal sambil setengah melotot ke arah Alexa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alexa terdiam, mulutnya sedikit ternganga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Lo terakhir ke gereja kapan?” tanya gadis berambut pendek itu.</p>
<p>“Emang yang tadi bukan misa?” Vincent bertanya balik.</p>
<p>“<em>You’re impossible</em>,” ujar Alexa sambil membenamkan wajahnya ke dua belah telapak tangannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8212;</p>
<p align="right">
<p align="right"><em>11th June</em></p>
<p align="right"><em>Travel Bus to Jakarta</em></p>
<p align="right"><em> </em></p>
<p><em>I fucking hate funeral. I hate seeing people cry, I hate seeing them throwing desperate bargain to God for what He took away. I hate seeing them overreact in everything</em></p>
<p><em>.</em></p>
<p><em>Actually, these people really blew my mind, they claimed themselves to be God-fearing religious people. Real believer that follow His words to the fullest, but they cry like a fucking brat when He do things that don’t favor them. So far with “faith”, ain’t it? Do they really believe in heaven and hell when they cry at dead people that supposedly in a better place now? Do they really love their loved one when they cry at the funeral of people that SUPPOSEDLY be one with Him now?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Do they, or they’re just sick selfish bastards that think God should serve them as good as he could to pay all that long prayer they do on His name?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Fucking hypocrites.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>I don’t know, maybe it’s the unmainstreamly (is that even a word?) religious me that see Him in different point of view or whatever. I’m not a preacher, what the fuck do I know?</em></p>
<p align="right">-       <em>S.S.S </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Matahari sudah condong ke barat dan jalanan yang basah sudah mulai mengering, hanya genangan-genangan air berkumpul di tepi jalan yang sesekali berkecipak terlindas mobil-mobil yang berlalu. Salah satu mobil van yang berlalu berhenti tepat di atasnya, memuntahkan sejumlah wajah penat setelah terjebak kemacetan jalan tol antar kota selama lebih dari tiga jam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Lucu ya, gue ke Kuala Lumpur dan gue ke Bandung makan waktu lebih lama ke Bandung,</em> batin salah satu lelaki yang turun dari kendaraan itu. Rambutnya yang panjang diikat di belakang dan bagian atas kepalanya ditutup sebuah topi <em>trucker</em> hitam yang sudah terlihat belel seperti jins biru yang dikenakannya. Dia menyulut sebatang rokok dan melangkah menjauh menuju perempatan terdekat dan menghampiri tukang ojek pertama yang menyadari kedatangannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tadi pagi saya ditipu, kang! Masa saya muter-muter jauh banget cuma dibayar sepuluh ribu? Kata penumpangnya deket, saya teh percaya aja kang, nggak tahunya jauh bener. Saya mau ngomel takut, orangnya tinggi, gondrong, tatoan. Mirip si akang, tapi akang mah baek, jujur, nggak kayak yang tadi siang&#8230;” cerocos tukang ojek tanpa mempedulikan fakta bahwa penumpangnya tidak menunjukkan reaksi ketertarikan sedikitpun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Jarak itu relatif, bang. Yang deket bisa jauh, yang jauh bisa deket. Yang masih hidup bisa terasa jauuuh banget, yang udah mati malah berasa nempel,” ujar Evan, sang penumpang ojek tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Ah, si akang mah omongannya serem banget, bawa-bawa yang udah mati nempel segala.”</p>
<p>“Serem ya bang?” tanya Evan dengan nada santai</p>
<p>“Iya atuh kang, saya mah biar kata sayang sama istri saya juga males kalo ditempelin seumur hidup saya, hiii&#8230;”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Emang istri abang udah meninggal?”</p>
<p>“Nikah juga belom, kang.”</p>
<p>“Ya udah, ngebujang aja seumur hidup bang, supaya nggak ditempelin hantu mantan istri.”</p>
<p>“Ah, si akang mah&#8230; nyumpahin sih.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pembicaraan terputus ketika mereka tiba di depan sebuah bangunan empat lantai dengan banyak jendela. Terletak di sebelah taman kecil, suasana kos-kosan itu terasa rindang dan bersahabat. Seorang bapak tua yang terlihat tambun dengan seragam satpam yang tidak dikancing sedang menyapu dedaunan kering di depan gedung itu. Dia menengadah dan tersenyum sopan kepada Evan yang menyapanya sambil melangkah masuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Eh iya Pan, pacarnya nungguin tuh di depan kamar,” teriak satpam itu kepada Evan dengan logat Betawi yang kental.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Evan berhenti sesaat sebelum melangkahkan kakinya menaiki tangga lagi. Dia tidak punya pacar, jadi kemungkinan besar itu adalah salah satu dari antara dua wanita dari bandnya.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Katt.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gadis itu duduk berselonjor di lantai depan pintu kamar kos Evan. Rambutnya yang biasa disisir ke samping kini menutupi sebagian besar wajahnya, seperti berusaha menutupi matanya yang memerah namun tidak ditemani setetespun air mata di pipinya. Sebungkus kotak hitam berisi rokok tergeletak pasrah di sisinya dikelilingi puntung-puntung hitam yang tidak semuanya terbakar habis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>He’s dead, ain’t he</em>?” tanya gadis itu dengan suara berat yang terdengar serak. Dia mengangkat kepalanya dengan ogah-ogahan, menatap Evan yang berdiri dengan gejolak emosi bercampur di dalam dadanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Get up</em>,” balas Evan singkat sambil menarik Katt berdiri. Gadis itu terangkat namun terhuyung jatuh dan dengan sigap ditangkap oleh Evan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Two motherfucking death, and I’m barely twenty two. This life is bullshit, I’m bullshit,</em>” desis Katt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Udahlah, kita masuk dulu aja. Lo kalem dulu.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tidak ada suara apa-apa dari gadis itu. Dia tertidur dengan nafas lambat dan nyaris tanpa suara. Dengan satu desahan pelan, Evan menahan tubuh gadis itu dan membuka pintu kamar kosnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Evan merebahkan dirinya di karpet kasar dan bantal kotak yang jelas-jelas terlalu besar untuk menjadi bantal normal. Dia menarik seprei yang masih wangi dan jelas terlihat tarikan garis-garis lipatannya. Dia melirik ke sudut kamar itu di mana Katt meringkuk di atas kasur dengan tumpukan kain acak-acakan tertindih olehnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan satu desahan keras, Evan menutup wajahnya dengan seprei itu dan memaksa dirinya turun ke Tartarus mini di kepalanya sampai esok pagi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustyrevolver.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustyrevolver.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustyrevolver.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustyrevolver.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustyrevolver.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustyrevolver.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustyrevolver.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustyrevolver.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustyrevolver.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustyrevolver.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustyrevolver.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustyrevolver.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustyrevolver.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustyrevolver.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=165&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/23/165/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1dc46d40598ce116d7389129b700052?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">AЯOT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malam Pertama</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/21/malam-pertama/</link>
		<comments>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/21/malam-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 10:40:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustyrevolver</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peluru dan Nada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustyrevolver.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Alexa memutar tangan dan NSR &#8217;98nya meraung kencang dengan asap putih tipis menyembur dari dalam knalpot ramping itu. Beberapa detik kemudian dia sudah melesat pergi bergabung dengan keramaian lalu lintas. Motor sport tua itu melesat kencang di tengah padatnya jalanan Jakarta, dibawa Alexa menyelip-nyelip di antara mobil dan bis. Tidak terpikir apa-apa lagi, lebih baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=163&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alexa memutar tangan dan NSR &#8217;98nya meraung kencang dengan asap putih tipis menyembur dari dalam knalpot ramping itu. Beberapa detik kemudian dia sudah melesat pergi bergabung dengan keramaian lalu lintas. Motor sport tua itu melesat kencang di tengah padatnya jalanan Jakarta, dibawa Alexa menyelip-nyelip di antara mobil dan bis. Tidak terpikir apa-apa lagi, lebih baik menyerempet kanan-kiri daripada terlambat. Matanya yang tidak memiliki lipatan itu memicing di balik kaca helm, memperhatikan setiap celah yang bisa dia masuki. Suara berdecak kecil terdengar diiringi makian dalam beberapa bahasa ketika sebuah bis mendadak menepi dan menurunkan penumpang menghalangi jalannya. Alexa menendang keras bemper belakang bis itu sambil mencekik tali gas motor kesayangannya dan mengacungkan jari tengah sambil melaju jauh meninggalkan bis yang tidak mungkin mengejar sebuah motor di antara kemacetan.</p>
<p>Raungan motor itu terdengar keras sebelum dilanjutkan hening seiring Alexa melompat turun dari atasnya. Dia melempar helm secara asal-asalan ke atas sofa di dalam ruangan dengan pintu yang terbuka di ujung nya. Seseorang berdiri di hadapan pintu itu sambil menatap Alexa dengan mata memicing.</p>
<p>&#8220;Elo. Telat. Banget,&#8221; ujar seorang laki-laki bertubuh ramping dan tidak terlalu tinggi yang berdiri di hadapan pintu itu. Rambutnya yang tidak terlalu panjang tergerai lemas menutupi dahinya tanpa cela celah sedikitpun.</p>
<p>&#8220;Lima menit, Stan! Elo jadi manager rileks sedikit kenapa sih?&#8221; jawab Alexa ketus sambil merapikan rambutnya yang dipotong pendek acak-acakan dengan jarinya.</p>
<p>&#8220;Lima menit itu udah satu lagu. Nggak ada yang namanya &#8216;cuma&#8217; di sini.&#8221;<br />
&#8220;Lo nggak mikir kalau elo ngomelin gue justru bikin gue makin telat?&#8221;<br />
&#8220;Makanya gua nunggu lo di sini, supaya lo bisa dengerin omongan gua sambil kita naik!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada apaan sih yang segitu pentingnya, Stan?&#8221; ujar Alexa sambil melangkah menaiki tangga menuju studio di lantai dua ruko tersebut. &#8220;Lo biasanya nggak pernah sampe seniat ini buat marah-marah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hari ini calon bassist baru kita datang, oke? Gue pengen etos kerja band kita terlihat baik di depan calon member baru&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Sebelum belangnya kita ketahuan semua,&#8221; potong Alexa ketus.<br />
&#8220;Sinis amat sih lo?&#8221;<br />
&#8220;Sinis lah, gue ngebut nyeberangin Jakarta dari barat ke selatan cuma buat dibentak-bentak sama elo.&#8221;</p>
<p>Stan melirik dengan mata menyipit sementara Alexa menatapnya balik dengan wajah menantang.</p>
<p>&#8220;Bisa nggak usah diperpanjang? Kita udah telat,&#8221; Stan mengetuk-etuk jam tangannya.</p>
<p>Alexa memutar bola matanya sambil mengerang dan melangkah naik mengikuti Stan.</p>
<p>Udara dingin menyambut Alexa dan Stan ketika memasuki studio. Ruangan itu cukup besar, dengan lantai kayu dan karpet melapisi dinding dan setiap sudut ruangan. Alexa melangkah ke belakang drum set dan mulai mengatur posisi seluruh set alat perkusi tersebut.</p>
<p>&#8220;Lo kena ceramah banci lagi ya?&#8221; ujar seorang lelaki bersuara serak.<br />
Alexa terkekeh. &#8220;Iyalah, gue kan emang langganan sama dia.&#8221;</p>
<p>Pemilik suara serak itu tertawa kecil. Bahunya yang lebar berguncang, mempertontonkan tulang yang menonjol dari balik kaosnya yang berkerah longgar. Dia lalu mengibaskan rambutnya,yang panjang bergelombang dan mengikatnya di belakang kepala.</p>
<p>&#8220;Ya udahlah, kita tes dulu tuh anak baru,&#8221; ujarnya lagi.</p>
<p>Alexa melirik, seseorang yang mengenakan jaket dengan tudung dinaikkan sedang duduk menunduk di depan deretan tombol dan lampu yang menyala sambil sesekali menaik-turunkan setelan nada di bassnya.</p>
<p>&#8220;Anak mana, Cen?&#8221; tanya Alexa kepada Vincent, sang pemilik suara serak itu.<br />
&#8220;Bawaannya Evan, temen gereja, atau sekolah minggu, atau apalah gitu,&#8221;<br />
&#8220;Si Evan sejak kapan pergi ke gereja?&#8221;<br />
&#8220;Nggak ngerti deh gue&#8230; yah pokoknya gitu deh katanya.&#8221;</p>
<p>Alexa kembali melirik ke pemain bass itu. Sebagian wajahnya tertutup poni yang dipotong miring menutupi sebelah matanya. Kulitnya yang putih dengan bibir merah muda kontras dengan rambut hitam mengkilap. Alisnya tipis dengan bulu mata lentik di pinggir mata yang berbentuk seperti mata kucing.</p>
<p>&#8220;Okay, kita coba lagu yang agak umum dulu gimana?&#8221; ujar Vincent sambil mengedikkan kepala ke arah anak baru itu.</p>
<p>Anak baru itu mengangkat bahu dengan ekspresi &#8216;terserahlah&#8217;.</p>
<p>&#8220;Ya udah, Highway to Hell?&#8221; Vincent melanjutkan ucapannya sambil meminta persetujuan anggota band lainnya.</p>
<p>&#8220;Fine,&#8221; jawab Alexa.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&#8220;Oke atau nggak Lex?&#8221; tanya Vincent selepas latihan. Mereka semua sedang duduk di lantai paling atas studio. Langit di atas mereka gelap, sedangkan ruangan tanpa atap tersebut hanya diterangi sebuah lampu neon yang menempel di atas pintu menuju tangga turun. Di samping pintu itu sebuah tulisan tertera dengan cat warna merah dan perak: &#8220;RUSTYREVOLVER&#8221; dengan gambar sebuah pistol revolver panjang yang terlilit duri mawar di bawahnya.</p>
<p>&#8220;Oke sih,&#8221; ujar Alexa sambil mengetuk-ngetukkan stik drumnya ke tempat duduk plastik yang diletakkan di depannya. &#8220;Ada tampang lagi. Udah lama kan elo pengen punya groupies homo?&#8221;<br />
&#8220;Tai lo,&#8221; sahut Vincent sambil melempar Alexa dengan kaleng minuman ringan.<br />
&#8220;Tapi, serius deh. Skill ada, tampang ada. Gue agak kurang sreg sama rambut emo-emoannya dia itu sih, cuma itu masalah minorlah. Elo sendiri gimana, Cen?&#8221;<br />
&#8220;Yah, rambut oke deh, tapi masing-masing gaya deh kalau itu. Tapi sense of rhythmnya cukup mumpuni ya?&#8221;<br />
&#8220;Tai ah bahasa lo&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Elo kan drummer, harusnya elo dong yang nilai!&#8221;<br />
&#8220;Gue bilang skill oke &#8216;kan? berarti gue nggak ada masalah.”</p>
<p>Vincent mengangkat bahu.</p>
<p>&#8220;Guys,&#8221; teriak Stan. &#8220;Ngumpul dong, belum pada kenalan kan?&#8221;</p>
<p>Pemain bass itu tersenyum sopan dengan raut wajah datar. Sebatang rokok terselip di ujung bibirnya.</p>
<p>&#8220;Nama gue Kat&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Kayak nama cewek,&#8221; potong Alexa.<br />
&#8220;Gue emang cewek, kali,&#8221; lanjutnya dengan ketus.</p>
<p>Alexa terbengong. Di luar penampilannya yang maskulin-tapi-agak-cantik, suaranya yang berat masih terdengar seperti suara perempuan.</p>
<p>&#8220;Alexanya ada dua nih,&#8221; ujar Vincent sambil terkikik. Alexa meliriknya dengan tatapan kesal.<br />
&#8220;Atau malah si Stan yang jadi dua?&#8221; balas Evan sambil menyenandungkan Dude Looks Like a Ladynya Aerosmith yang disambut dengan keplakan tumpukan kertas di kepala.<br />
&#8220;Berisik,&#8221; ujar Stan sambil mendengus. &#8220;Terusin, Kat?&#8221;</p>
<p>Kat hanya terdiam sambil mengangkat bahu. &#8220;Apa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi sekarang kita cuma tahu nama&#8230;&#8221; ujar Alexa.<br />
&#8220;&#8230;dan jenis kelamin,&#8221; potong Vincent yang lalu diiringi tepukan tangan dari Evan.</p>
<p>&#8220;So far with the &#8216;jaga image band&#8217;, Stan?&#8221; desis Alexa kepada Stan yang dibalas dengan muka merengut.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&#8220;Elo pulang ke mana, Kat?&#8221; tanya Alexa sambil mengenakan jaket ketika mereka semua sedang bersiap untuk pulang.<br />
&#8220;Rumah gue deket sama kos-kosannya si Evan, paling gue nanti balik bareng dia.&#8221;<br />
&#8220;Nggak mendingan sama gue aja? Evan pasti bakal nongkrong lagi sama Stan dan Vincent di Baby Band&#8217;s buat karaokean.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kayaknya asyik kalau ikutan juga,&#8221; ujar Kat sambil menaruh tas bassnya di punggung.<br />
&#8220;Elo bercanda? Gue nggak mau ada di ruangan yang sama waktu si gondrong kembar itu ngegodain waitress setempat. Kalau berhasil, kita terpaksa ngelihat mereka towel-towel kiri-kanan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau gagal?&#8221;</p>
<p>&#8220;Malu, nanti disangka temennya.&#8221;</p>
<p>Kat hanya terkekeh sambil melempar batang rokok yang sudah habis terbakar ke bawah dan menginjaknya.</p>
<p>&#8220;Ayolah, biarin cowok-cowok itu senang-senang,&#8221; Alexa berkata dan mengambil helm yang tergeletak di atas sofa.</p>
<p>&#8220;Si Stan nggak ada yang nemenin dong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia ikutan mereka lah!&#8221;</p>
<p>Alis Kat terangkat sebelah.</p>
<p>&#8220;Si banci satu itu tampilannya aja yang kayak begitu, tapi dia ganti cewek udah kayak ganti celana dalam,&#8221; ujar Alexa sambil tergelak.<br />
&#8220;Ah, gue balik sama elo aja deh. Imagenya nggak enak banget di kepala.”</p>
<p>Alexa hanya tertawa sambil melangkah keluar menuju motornya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&#8220;Jadi lo kenal sama Evan di sekolah minggu?&#8221; Alexa bertanya sambil mengendarai motornya dengan kecepatan rendah.<br />
&#8220;Cerita dari mana tuh, ngaco banget!&#8221; jawab Kat.<br />
&#8220;Vincent.&#8221;<br />
&#8220;Paling dibohongin Evan.&#8221;<br />
&#8220;Emang aslinya?&#8221;<br />
&#8220;Kenalan di konser. Waktu Tribute to Rancid. &#8220;</p>
<p>Alexa terdiam.</p>
<p>&#8220;Lebih masuk akal kan?” tanya Kat.<br />
&#8220;Sejak kapan Evan tahan dengerin punk?&#8221;<br />
&#8220;Nggak sejak kapan-kapan, gue bohong kok.&#8221;</p>
<p>Alexa mengerem dan menggas motornya dengan sebal, sementara Kat terkekeh pelan sambil memegang motor erat-erat untuk menahan guncangan.</p>
<p>&#8220;Emang sekolah minggu kok,&#8221; lanjut Kat. &#8220;Dia kan ngelatih anak-anak paduan suara, dan gue nganter adik gue latihan,&#8221;</p>
<p>Alexa terdiam lagi, dia membayangkan pria tinggi berpostur junkie dengan rambut lurus acak-acakan sebahu dan lengan bertato mengajar anak-anak kecil bernyanyi “Gloria, in Excelsis Deo”.</p>
<p>&#8220;Nggak masuk ah!&#8221;<br />
&#8220;Rambutnya diikat, antingnya dicopot, dan dia pake kemeja lengan panjang.&#8221;<br />
&#8220;Sedikit lebih masuk akal sih&#8230;&#8221;</p>
<p>Alexa terdiam cukup lama, image yang baru saja lewat di kepalanya mengenai gitaris band itu benar-benar tidak masuk akal.</p>
<p>&#8220;Kat,&#8221; ujar Alexa memecah keheningan. &#8220;Elo lapar nggak?&#8221;<br />
&#8220;Agak sih, emangnya kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Mau nasi uduk? Di depan itu tempat makannya anak-anak kalau habis manggung atau latihan.&#8221;<br />
&#8220;Boleh deh, nggak ada salahnya. Baru jam sembilan juga.&#8221;</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Tidak lama kemudian, Alexa dan Kat sedang duduk di atas tikar yang digelar di samping tenda tukang nasi uduk itu ketika suara deru knalpot keras terdengar dari mobil station-wagon yang memasuki pelataran parkir. Sebuah Holden Premiere hitam mengkilap itu berhenti samping motor Alexa dan dua orang lelaki tinggi melompat keluar dari mobil itu dengan terbahak-bahak. Di belakang mereka Stan keluar dengan wajah tertekuk.</p>
<p>&#8220;Kenapa lo berdua?&#8221; tanya Alexa heran sambil menyuap sepotong ayam ke dalam mulutnya.</p>
<p>&#8220;Korban jebakan batman ngamuk!&#8221; ujar Evan sambil menepuk-nepuk punggung Stan.</p>
<p>&#8220;Ngegodainnya gagal?&#8221; tanya Kat.<br />
Vincent tebahak. &#8220;Awalnya sih sukses,&#8221; lanjutnya setelah tawanya reda, &#8220;sampai mendadak si kutu satu ini balik dari WC. Ternyata waitress yang kita gangguin itu mantan mainannya dia&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;yang dia tinggalin setelah one night stand yang penuh janji,&#8221; sahut Evan.</p>
<p>&#8220;Gue pikir elo serius waktu elo bilang elo mau jadi cowok gue! Uhuhuhu&#8230;&#8221; Vincent berujar dengan suara yang ditinggi-tinggikan.</p>
<p>&#8220;Udah puas?&#8221; tanya Stan dengan nada sebal.</p>
<p>&#8220;Belum sih. Tapi terusin nanti aja deh, gue kelaparan banget,&#8221; Suara serak Vincent terdengar puas ketika dia mengambil segelas es jeruk dari atas tikar.</p>
<p>&#8220;Eh, minum gue tuh!&#8221; erang Alexa.<br />
&#8220;Tahu kok.&#8221;<br />
&#8220;Gue kepedesan nih!&#8221;<br />
&#8220;Itu juga tahu.&#8221;<br />
&#8220;Balikin!&#8221;<br />
&#8220;Ogah!&#8221;</p>
<p>Alexa melempar tulang ayam ke arah Vincent yang hanya terkena ujung tangannya ketika dia menunduk menghindar.</p>
<p>&#8220;Elo minta muka lo gue jadiin kobokan ya?&#8221; ujar Alexa sambil menaruh piringnya dan mengejar Vincent dengan tangan kotornya teracung ke depan.</p>
<p>Vincent menaruh gelas minuman itu dan lari dikejar Alexa yang kelihatannya sudah lupa tujuan awal dia mengejar Vincent. Langit semakin gelap, namun kehidupan mereka baru saja dimulai.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustyrevolver.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustyrevolver.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustyrevolver.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustyrevolver.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustyrevolver.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustyrevolver.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustyrevolver.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustyrevolver.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustyrevolver.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustyrevolver.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustyrevolver.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustyrevolver.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustyrevolver.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustyrevolver.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=163&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/21/malam-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1dc46d40598ce116d7389129b700052?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">AЯOT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suatu Masa, Sebelum Mereka Bersama</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/21/suatu-masa-sebelum-mereka-bersama/</link>
		<comments>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/21/suatu-masa-sebelum-mereka-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 04:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustyrevolver</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peluru dan Nada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/21/suatu-masa-sebelum-mereka-bersama/</guid>
		<description><![CDATA[Aku melayang. Aku tidak tahu apa kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya. Aku melayang, terbang di udara kosong nyaris menembus plafon. Aku mencoba menggerakan tanganku, kakiku, aku tidak bisa merasakan apa-apa. Kosong. Tidak ada kata yang lebih tepat menggambarkan ini. Kosong, empty, nil, zilch, void. Empat indera mati; tidak merasa maupun mendengar, tidak bicara maupun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=159&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku melayang.</p>
<p>Aku tidak tahu apa kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya. Aku melayang, terbang di udara kosong nyaris menembus plafon. Aku mencoba menggerakan tanganku, kakiku, aku tidak bisa merasakan apa-apa.</p>
<p>Kosong.</p>
<p>Tidak ada kata yang lebih tepat menggambarkan ini. Kosong, empty, nil, zilch, void. Empat indera mati; tidak merasa maupun mendengar, tidak bicara maupun meraba.</p>
<p>Hanya melihat.</p>
<p>Tembok putih kecoklatan dengan bekas tapak kaki kita saat bercanda menjadi spiderman, kasur dengan seprai yang terlempar entah ke mana, pakaian kotor dan bersih berserakan di lantai, serpihan piring terpecah berkeping-keping&#8230; piring yang dulu kita beli di pasar, bersama untuk mengisi ruangan ini dan menjadi rumah kedua kita.</p>
<p>Rumah pertamamu adalah rumahmu dan istrimu.</p>
<p>&#8220;Rumah pertamaku adalah hatimu,&#8221; ujarku, dulu, entah berapa saat yang lalu.</p>
<p>Dulu, sebelum &#8216;kita&#8217; menjadi hanya &#8216;aku&#8217; tanpa &#8216;kamu&#8217;. </p>
<p>Pandanganku kabur, aku tidak bisa memanggil satupun ingatan solid, hanya fragmen-fragmen kecil bagai kubus rubiks yang teracak tanpa rumus membongkarnya.</p>
<p>Namaku kucing liar, aku binal dan mencintai ular.</p>
<p>Dan ular itu mati karena menggigit bibirnya sendiri.</p>
<p>Aku menatap ke bawah. Sesosok tubuh terbaring kaku dengan separuh bagiannya menggantung di tepi kasur dan satu lengan tertiban badan yang jauh dari kata &#8216;besar&#8217; itu. Satu lengan, lengan kiri, menjuntai lemah dengan sisi dalam menghadap langit memperlihatkan guratan-guratan merah asimetris yang membocorkan sungai merah kehidupan dari gorong-gorong bawah kulit mereka. Postur akrab yang sering kutatap dari balik cermin.</p>
<p>Dalam kesadaran seketika, gravitasi berbicara. Aku terjatuh, sebuah tangan dingin bagai meremas jantungku yang terhenti sesaat sebelum semuanya hilang dalam basuhan cahaya putih.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>&#8220;Sakit,&#8221; ujar gadis itu sambil melirik ke lengannya yang bersimbah darah. Di sampingnya teronggok sebuah tempat permen bekas terbuka dengan isi obat-obatan yang seharusnya tidak berada di sana berserakan keluar. Sebau botol pipih dengan isi yang sudah tuntas tergeletak di sisi lain kamar itu.</p>
<p>Gadis itu menatap berambut sepipi itu menatap langit-langit dengan tatapan berkaca-kaca.</p>
<p>&#8220;Tuhan,&#8221; ujarnya, &#8220;kenapa aku tidak mati saja?&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustyrevolver.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustyrevolver.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustyrevolver.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustyrevolver.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustyrevolver.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustyrevolver.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustyrevolver.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustyrevolver.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustyrevolver.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustyrevolver.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustyrevolver.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustyrevolver.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustyrevolver.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustyrevolver.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=159&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/10/21/suatu-masa-sebelum-mereka-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1dc46d40598ce116d7389129b700052?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">AЯOT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#2</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/09/07/2/</link>
		<comments>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/09/07/2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 15:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustyrevolver</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Shits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://rustyrevolver.wordpress.com/2011/09/07/2/</guid>
		<description><![CDATA[It&#8217;s just another sight of the moment we have A moment we see with each other&#8217;s eye One-sided sight, ending our fight Two-sided sight, ten sleepless night It&#8217;s just a matter of question that matters When neither of us know the answer But tell me, does it really even matter When we ain&#8217;t even sure [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=157&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>It&#8217;s just another sight of the moment we have<br />
A moment we see with each other&#8217;s eye<br />
One-sided sight, ending our fight<br />
Two-sided sight, ten sleepless  night</p>
<p>It&#8217;s just a matter of question that matters<br />
When neither of us know the answer<br />
But tell me, does it really even matter<br />
When we ain&#8217;t even sure how to stick together?</p>
<p>Tickety tock, clickety clock<br />
Nine o&#8217;clock, cock the glock</p>
<p>Click-clack</p>
<p>Bam</p>
<p>#20puisidanlagu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustyrevolver.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustyrevolver.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustyrevolver.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustyrevolver.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustyrevolver.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustyrevolver.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustyrevolver.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustyrevolver.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustyrevolver.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustyrevolver.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustyrevolver.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustyrevolver.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustyrevolver.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustyrevolver.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=157&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/09/07/2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1dc46d40598ce116d7389129b700052?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">AЯOT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>#1</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/09/05/1/</link>
		<comments>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/09/05/1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 19:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustyrevolver</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Shits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://rustyrevolver.wordpress.com/2011/09/05/1/</guid>
		<description><![CDATA[Rintik berjatuhan di pelupuk jendela Hantarkan ritma dalam lautan nada Tentang aku, kau, dan mereka Yang tak terlahir, namun tak terlupa Senandung bersambut, kidungpun terajut Dan perlahan kita berdua pun larut Dalam geliat kisah lama yang sama Yang berlalu, namun tak terlupa Tanpa kata kita bicara Tanpa kata nada meronta Tanpa kata kita bersama Dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=153&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rintik berjatuhan di pelupuk jendela<br />
Hantarkan ritma dalam lautan nada<br />
Tentang aku, kau, dan mereka<br />
Yang tak terlahir, namun tak terlupa</p>
<p>Senandung bersambut, kidungpun terajut<br />
Dan perlahan kita berdua pun larut<br />
Dalam geliat kisah lama yang sama<br />
Yang berlalu, namun tak terlupa</p>
<p>Tanpa kata kita bicara<br />
Tanpa kata nada meronta<br />
Tanpa kata kita bersama<br />
Dalam rimba aksara tak nyata</p>
<p>#20puisidanlagu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustyrevolver.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustyrevolver.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustyrevolver.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustyrevolver.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustyrevolver.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustyrevolver.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustyrevolver.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustyrevolver.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustyrevolver.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustyrevolver.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustyrevolver.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustyrevolver.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustyrevolver.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustyrevolver.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=153&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/09/05/1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1dc46d40598ce116d7389129b700052?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">AЯOT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Copy Who&#8217;s Style?</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/06/21/copy-whos-style/</link>
		<comments>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/06/21/copy-whos-style/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 09:33:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustyrevolver</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curipandang]]></category>
		<category><![CDATA[string]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/06/21/copy-whos-style/</guid>
		<description><![CDATA[Remember this song? The one complaining about him being copied by some country&#8217;s rapper? Well, this is an old song. No, I don&#8217;t accuse anyone copying anyone. MAYBE it&#8217;s just him taking the irony way. You know, nyindir dengan cara.. nevermind, I&#8217;d rather not talk and let everyone to have their own judgements. Mungkin cumi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=148&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Remember this song? The one complaining about him being copied by some country&#8217;s rapper?</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/06/21/copy-whos-style/"><img src="http://img.youtube.com/vi/OjcNPpKRI6Q/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p>Well, this is an old song.</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/06/21/copy-whos-style/"><img src="http://img.youtube.com/vi/1plPyJdXKIY/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p>No, I don&#8217;t accuse anyone copying anyone. MAYBE it&#8217;s just him taking the irony way. You know, nyindir dengan cara.. nevermind, I&#8217;d rather not talk and let everyone to have their own judgements. Mungkin cumi. Mungkin.</p>
<p>Besides, using &#8216;sample&#8217; is common. Right? RIGHT?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustyrevolver.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustyrevolver.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustyrevolver.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustyrevolver.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustyrevolver.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustyrevolver.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustyrevolver.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustyrevolver.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustyrevolver.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustyrevolver.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustyrevolver.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustyrevolver.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustyrevolver.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustyrevolver.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=148&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/06/21/copy-whos-style/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1dc46d40598ce116d7389129b700052?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">AЯOT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Making a Living with Comics</title>
		<link>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/06/12/making-a-living-with-comics/</link>
		<comments>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/06/12/making-a-living-with-comics/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2011 05:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rustyrevolver</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curipandang]]></category>
		<category><![CDATA[string]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/06/12/making-a-living-with-comics/</guid>
		<description><![CDATA[Jadi singkat kata, kemarin gue mengundang banyak orang untuk datang ke event di @america yang gw inisiasi. Considering this and that, gw memutuskan untuk membagi rekaman event kemarin untuk yang membutuhkan. atau, well, nggak bisa dateng karena lagi ada di belahan bumi lain dan bersirik-sirik ria sambil misuh. So well, enjoy!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=146&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="296">
<param name="flashvars" value="loc=%2F&amp;autoplay=false&amp;vid=15308192&amp;hid=0&amp;disabledComment=true&amp;locale=en_US&amp;id=15308192&amp;v3=1" />
<param name="allowfullscreen" value="true" />
<param name="src" value="http://www.ustream.tv/flash/viewer.swf" />
<embed flashvars="loc=%2F&amp;autoplay=false&amp;vid=15308192&amp;hid=0&amp;disabledComment=true&amp;locale=en_US&amp;id=15308192&amp;v3=1" width="480" height="296" allowfullscreen="true" src="http://www.ustream.tv/flash/viewer.swf" type="application/x-shockwave-flash" />
</object>
<p>Jadi singkat kata, kemarin gue mengundang banyak orang untuk datang ke event di @america yang gw inisiasi. Considering this and that, gw memutuskan untuk membagi rekaman event kemarin untuk yang membutuhkan. atau, well, nggak bisa dateng karena lagi ada di belahan bumi lain dan bersirik-sirik ria sambil misuh.</p>
<p>So well, enjoy!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rustyrevolver.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rustyrevolver.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rustyrevolver.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rustyrevolver.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rustyrevolver.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rustyrevolver.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rustyrevolver.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rustyrevolver.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rustyrevolver.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rustyrevolver.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rustyrevolver.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rustyrevolver.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rustyrevolver.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rustyrevolver.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rustyrevolver.wordpress.com&amp;blog=7219642&amp;post=146&amp;subd=rustyrevolver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rustyrevolver.wordpress.com/2011/06/12/making-a-living-with-comics/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f1dc46d40598ce116d7389129b700052?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">AЯOT</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
