Yang Tertinggal

Dibaca baru saja di launching @kreanesia

“Aku akan menunggu, tanpa menganggu hubunganmu,” tertulis sederet kata dengan titik kuning di sisi kirinya yang masih terus kubaca di layar telepon yang perlahan mulai meredup. Aku tersenyum, namun sudut bibirku bergetar getir ingin melepas kata yang tersangkut di balik dada.

Namun aku tahu itu percuma.

Jika aku bicara, tak kan pula ada kata yang mampu merasuk masuk menusuk hatimu yang kau buat beku untuk melindunginya dari sakit tak terperi yang mungkin akan kuberi, secara sengaja atau tak sengaja.

Ataukah begitu adanya? Aku hanya bisa mengira.

Aku menarik nafas, mencoba lepas dari batu besar yang mengganjal jalur otak dan hati. Bagai tumor ganas, buas, menghabisi jiwa yang terlahap isi kepala.

“Hadapilah, kamu salah, kamu kalah. Lepaslah lepas, biarkan dia bebas terbang ke mana dia seharusnya bersarang. Mungkin denganmu, tapi bukan sekarang,” ujar kepala yang terbias logika.

“Sakit,” ujar hati yang terkunci ego ingin memiliki.

“Tidak ada terakhir kali?” ujar hati kembali.

“Tidak, biarkan dia pergi.”

Hening. Hanya terdengar nadasela sebuah lagu lama yang menohok dada, terputus bersambut sebuah suara yang mungkin kudengar untuk terakhir kalinya.

“Ya?” ujarnya.

“Selamat tinggal, Yang Tertinggal,” jawabku tulus.

Sambungan kuputus.

Dan hidup berjalan terus.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.